<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Masjid Al-Amin Korea</title>
	<atom:link href="http://www.alaminkorea.com/index/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.alaminkorea.com/index</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 20 May 2012 02:17:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Hukum Seputar Darah Wanita: HAID</title>
		<link>http://www.alaminkorea.com/index/?p=1262</link>
		<comments>http://www.alaminkorea.com/index/?p=1262#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 May 2012 02:13:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Syariah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiah]]></category>
		<category><![CDATA[syariah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alaminkorea.com/index/?p=1262</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Ummu Hamzah Muroja’ah: Ustadz Abu ‘Ukkasyah Aris Munandar Pada tulisan yang telah lalu telah dibahas mengenai hal-hal yang diharomkan bagi wanita haid. Pada tulisan bagian kedua ini, akan dipaparkan tiga permasalahan penting terkait wanita haid, yaitu mengenai boleh tidaknya wanita haid masuk ke dalam masjid serta menyentuh dan membaca Al Qur’an. Bolehkah seorang wanita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.alaminkorea.com/index/wp-content/uploads/2012/05/donghai-bridge.jpg"><img class="size-full wp-image-1264 aligncenter" title="donghai-bridge" src="http://www.alaminkorea.com/index/wp-content/uploads/2012/05/donghai-bridge.jpg" alt="" width="451" height="317" /></a>Penulis: Ummu Hamzah</p>
<p>Muroja’ah: Ustadz Abu ‘Ukkasyah Aris Munandar</p>
<p>Pada tulisan yang telah lalu telah dibahas mengenai hal-hal yang diharomkan bagi wanita haid. Pada tulisan bagian kedua ini, akan dipaparkan tiga permasalahan penting terkait wanita haid, yaitu mengenai boleh tidaknya wanita haid masuk ke dalam masjid serta menyentuh dan membaca Al Qur’an.</p>
<p><strong>Bolehkah seorang wanita yang sedang haid masuk dan duduk di dalam masjid ?</strong></p>
<p>Sebagian ulama melarang seorang wanita masuk dan duduk di dalam masjid dengan dalil:</p>
<p>لاَأُحِلُّ الْمَسْجِدُ ِلحَائِضٍُ وَلا َجُنُبٍ</p>
<p><em>“Aku tidak menghalalkan masjid untuk wanita yang haidh dan orang yang junub.”</em>(Diriwayatkan oleh Abu Daud no.232, al Baihaqi II/442-443, dan lain-lain)</p>
<p>Akan tetapi hadits di atas merupakan hadits <em>dho’if</em> (lemah) meski memiliki beberapa<em>syawahid</em> (penguat) namun sanad-sanadnya lemah sehingga tidak bisa menguatkannya dan tidak dapat dijadikan hujjah. Syaikh Albani -<em>rahimahullaah</em>- telah menjelaskan hal tersebut dalam <em>‘Dho’if Sunan Abi Daud’</em> no. 32 serta membantah ulama yang menshahihkan hadits tersebut seperti Ibnu Khuzaimah, Ibnu al Qohthon, dan Asy Syaukani. Beliau juga menyebutkan ke-<em>dho’if</em>-an hadits ini dalam <em>Irwa’ul Gholil’</em> I/201-212 no. 193.</p>
<p>Berikut ini sebagian dalil yang digunakan oleh ulama yang membolehkan seorang wanita haid duduk di masjid (<em>Jami’ Ahkamin Nisa’</em> I/191-192):</p>
<ol>
<li>Adanya seorang wanita hitam yang tinggal di dalam masjid pada zaman Nabi<em>shallallahu’alaihi wa sallam</em>. Namun tidak ada dalil yang menyatakan bahwa Nabi<em>shallallahu’alaihi wa sallam</em> memerintahkannya untuk meninggalkan masjid ketika ia mengalami haidh.</li>
<li>Sabda Nabi <em>shallallahu’alaihi wa sallam</em> kepada ‘Aisyah <em>radhiyallahu’anha</em>, <em>“Lakukanlah apa yang bisa dilakukan oleh orang yang berhaji selain thowaf di Baitullah.”</em> Larangan thowaf ini dikarenakan thowaf di Baitullah termasuk sholat, maka wanita itu hanya dilarang untuk thowaf dan tidak dilarang masuk ke dalam masjid. Apabila orang yang berhaji diperbolehkan masuk masjid, maka hal tersebut juga diperbolehkan bagi seorang wanita yang haidh.</li>
</ol>
<p><strong>Kesimpulan:</strong></p>
<p>Wanita yang sedang haid diperbolehkan masuk dan duduk di dalam masjid karena tidak ada dalil yang jelas dan shohih yang melarang hal tersebut. Namun, hendaknya wanita tersebut menjaga diri dengan baik sehingga darahnya tidak mengotori masjid.</p>
<p><strong>Bolehkah seorang wanita yang sedang haid membaca Al Qur’an (dengan hafalannya) ?</strong></p>
<p>Sebagian ulama berpendapat bahwa wanita yang haid dilarang untuk membaca Al Qur’an (dengan hafalannya) dengan dalil:</p>
<p>لاَ تَقرَأِ الْحَا ءضُ َوَلاََ الْجُنُبُ شَيْئًا مِنَ الْقُرْانِ</p>
<p><em>“Orang junub dan wanita haid tidak boleh membaca sedikitpun dari Al Qur’an.”</em>(Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi I/236; Al Baihaqi I/89 dari Isma’il bin ‘Ayyasi dari Musa bin ‘Uqbah dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar)</p>
<p>Al Baihaqi berkata, “Pada hadits ini perlu diperiksa lagi. Muhammad bin Ismail al Bukhari menurut keterangan yang sampai kepadaku berkata, ‘Sesungguhnya yang meriwayatkan hadits ini adalah Isma’il bin Ayyasi dari Musa bin ‘Uqbah dan aku tidak tahu hadits lain yang diriwayatkan, sedangkan Isma’il adalah munkar haditsnya (apabila) gurunya berasal dari Hijaz dan ‘Iraq’.”</p>
<p>Al ‘Uqaili berkata, “Abdullah bin Ahmad berkata, ‘Ayahku (Imam Ahmad) berkata, ‘Ini hadits bathil. Aku mengingkari hadits ini karena adanya Ismail bin ‘Ayyasi’ yaitu kesalahannya disebabkan oleh Isma’il bin ‘Ayyasi’.”</p>
<p>Syaikh Al Albani berkata, “Hadits ini diriwayatkan dari penduduk Hijaz maka hadits ini<em>dhoif</em>.” (Diringkas dari Larangan-larangan Seputar Wanita Haid dari <em>Irwa’ul Gholil</em> I/206-210)</p>
<p>Kesimpulan dari komentar para imam ahli hadits mengenai hadits di atas adalah sanad hadits tersebut lemah sehingga tidak dapat digunakan sebagai dalil untuk melarang wanita haid membaca Al Qur’an.</p>
<p>Hadits dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu’anha</em> beliau berkata, <em>“Aku datang ke Mekkah sedangkan aku sedang haidh. Aku tidak melakukan thowaf di Baitullah dan (sa’i) antara Shofa dan Marwah. Saya laporkan keadaanku itu kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, maka beliau bersabda, ‘Lakukanlah apa yang biasa dilakukan oleh haji selain thowaf di Baitullah hingga engkau suci’.”</em> (Hadits riwayat Imam Bukhori no. 1650)</p>
<p>Seorang yang melakukan haji diperbolehkan untuk berdzikir dan membaca Al Qur’an. Maka, kedua hal tersebut juga diperbolehkan bagi seorang wanita yang haid karena yang terlarang dilakukan oleh wanita tersebut -berdasar hadits di atas- hanyalah thowaf di Baitullah. (<em>Jami’ Ahkamin Nisa’</em> I/183)</p>
<p><strong>Kesimpulan:</strong></p>
<p>Wanita yang sedang haid diperbolehkan untuk berdzikir dan membaca Al Qur’an karena tidak ada dalil yang jelas dan shohih dari Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wa sallam</em> yang melarang hal tersebut. <em>Wallahu Ta’ala a’lam.</em></p>
<p><strong>Bolehkah seorang wanita yang sedang haid menyentuh mushhaf Al Qur’an ?</strong></p>
<p>Telah terjadi perselisihan pendapat di kalangan ulama. Ulama yang melarang hal tersebut berdalil dengan ayat:</p>
<p>لاَّ يَمَسَّةُ إِلاَّ الْمُطَهَّرُونَ</p>
<p>Artinya:</p>
<p><em>“Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.”</em> (QS. Al Waqi’ah: 79)</p>
<p>يَمُسُّ maksudnya adalah menyentuh mushhaf al Qur’an. المُطَهَّرُونَ maksudnya adalah orang-orang yang bersuci. Oleh karena itu tidak boleh menyentuh mushaf al Qur’an kecuali bagi orang-orang yang telah bersuci dari hadats besar atau kecil.</p>
<p>Mereka juga berdalil dengan hadits Abu Bakar bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm dari bapaknya dari kakeknya bahwasanya Nabi <em>shallallahu’alaihi wa sallam</em> menulis surat kepada penduduk Yaman dan di dalamnya terdapat perkataan:</p>
<p>لاَّ يَمَسُّ الْقُرْاَنَ إِلاَّ طَا هِرٌ</p>
<p><em>“Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali orang yang suci.”</em> (Hadits Al Atsram dari Daruqutni)</p>
<p>Sanad hadits ini <em>dho’if</em> namun memiliki sanad-sanad lain yang menguatkannya sehingga menjadi <em>shahih li ghairihi </em>(<em>Irwa’ul Ghalil</em> I/158-161, no. 122)</p>
<p>Ulama yang membolehkan wanita haid menyentuh mushhaf Al Qur’an memberikan penjelasan sebagai berikut:</p>
<p>إِنَّهُ لَقُرْءَانٌ كَرِيْمٌ فِي كِتَابٍ مَّكْنُو نٍ لاَّ يَمَسَّهُ إِلاَّ الْمُطَهَّرُونَ تَتِريلٌ مِّن رَّبِّ الْعَا لَمِينَ</p>
<p>Artinya:<br />
<em>“Sesungguhnya Al qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia pada kitab yang terpelihara. Tidak menyentuhya kecuali (hamba-hamba) yang disucikan. Diturunkan oleh Robbul ‘Alamin.”</em> (QS. Al Waqi’ah: 77-80)</p>
<p>Kata ganti ﻪ (-nya pada <em>“Tidak menyentuhnya”</em>) kembali kepada ﻛﺘﺎﺏ ﻣﻜﻨﻮﻥ (<em>Kitab yang terpelihara</em>). Ibnu ‘Abbas, Jabir bin Zaid, dan Abu Nuhaik berkata, “(yaitu) kitab yang ada di langit”.</p>
<p>Adh Dhahhak berkata, “Mereka (orang-orang kafir) menyangka bahwa setan-setanlah yang menurunkan Al Qur’an kepada Muhammad <em>shallallaahu’alaihi wa sallam</em>, maka Allah memberitakan kepada mereka bahwa setan-setan tidak kuasa dan tidak mampu melakukannya.” (<em>Tafsir Ath Thobari</em> XI/659).</p>
<p>Mengenai ﺍﻟﻤُﻄَﻬَّﺮُﻭﻥَ menurut pendapat beberapa ulama, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Ibnu ‘Abbas berkata, <em>“Adalah para malaikat. Demikian pula pendapat Anas, Mujahid, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Adh Dhahhak, Abu Sya’tsa’ , Jabir bin Zaid, Abu Nuhaik, As Suddi, ‘Abdurrohman bin Zaid bin Aslam, dan selain mereka.”</em> [<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>(Terj.)]</li>
<li>Ibnu Zaid berkata, “yaitu para malaikat dan para Nabi. Para utusan (malaikat) yang menurunkan dari sisi Allah disucikan; para nabi disucikan; dan para rasul yang membawanya juga disucikan.” (<em>Tafsir Ath Thobari</em> XI/659)</li>
</ol>
<p>Imam Asy Syaukani berkata dalam <em>Nailul Author</em>, Kitab Thoharoh, Bab Wajibnya Berwudhu Ketika Hendak Melaksanakan Sholat, Thowaf, dan Menyentuh Mushhaf: “Hamba-hamba yang disucikan adalah hamba yang tidak najis, sedangkan seorang mu’min selamanya bukan orang yang najis berdasarkan hadits:</p>
<p>الْمُؤْمِنُ لاَ يَنْجُسُ</p>
<p><em>“Orang mu’min itu tidaklah najis.”</em> (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p>Maka tidak sah membawakan arti (hamba) yang disucikan bagi orang yang tidak junub, haid, orang yang berhadats, atau membawa barang najis. Akan tetapi, wajib untuk membawanya kepada arti: Orang yang tidak musyrik sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala yang artinya, <em>“Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis.”</em> (QS. At Taubah: 28)</p>
<p>Di samping itu lafadz yang digunakan dalam ayat tersebut adalah dalam bentuk <em>isim maf’ul</em>-nya (orang-orang yang disucikan), bukan dalam bentuk <em>isim fa’il</em> (orang-orang yang bersuci). Tentu hal tersebut mengandung makna yang sangat berbeda.</p>
<p>Mengenai hadits <em>“Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali orang yang suci”</em>, Syaikh Nashiruddin Al Albani <em>rahimahullah</em> berkata, “Yang paling dekat -Wallahu a’lam- maksud<em>“orang yang suci”</em> dalam hadits ini adalah orang mu’min baik dalam keadaan berhadats besar, kecil, wanita haid, atau yang di atas badannya terdapat benda najis karena sabda beliau <em>shallallahu’alaihi wa sallam</em>: <em>“Orang mu’min tidakah najis”</em> dan hadits di atas disepakati keshahihannya. Yang dimaksudkan dalam hadits ini (yaitu hadits Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali orang yang suci) bahwasanya beliau melarang memberikan kuasa kepada orang musyrik untuk menyentuhnya, sebagaimana dalam hadits:</p>
<p>نَهَى أَنْ يُسَا فَرَ بِا لْقُرْانِ إِلَى أَرْضِ اْلعَدُو</p>
<p><em>“Beliau melarang perjalanan dengan membawa Al Qur’an menuju tanah musuh.”</em> (Hadits riwayat Bukhori). (Dinukil dari Larangan-larangan Seputar Wanita Haid dari <em>Tamamul Minnah</em>, hal. 107).</p>
<p>Meski demikian, bagi seseorang yang berhadats kecil sedang ia ingin memegang <em>mushaf</em>untuk membacanya maka lebih baik dia berwudhu terlebih dahulu. Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqash berkata, <em>“Aku sedang memegang mushhaf di hadapan Sa’ad bin Abi Waqash kemudian aku menggaruk-garuk. Maka Sa’ad berkata, ‘Apakah engkau telah menyentuh kemaluanmu?’ Aku jawab, ‘Ya.’ Dia berkata, ‘Berdiri dan berwudhulah!’ Maka aku pun berdiri dan berwudhu kemudian aku kembali.”</em> (Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al Muwaththa’ dengan sanad yang shahih)</p>
<p>Ishaq bin Marwazi berkata, “Aku berkata (kepada Imam Ahmad bin Hanbal), ‘Apakah seseorang boleh membaca tanpa berwudhu terlebih dahulu?’ Beliau menjawab, ‘Ya, akan tetapi hendaknya dia tidak membaca pada <em>mushhaf</em> sebelum berwudhu”.</p>
<p>Ishaq bin Rahawaih berkata, “Benar yang beliau katakan, karena terdapat hadits yang dari Nabi <em>shallallahu’alaihi wa sallam</em>. Beliau bersabda, <em>‘Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali orang yang suci’</em> dan demikian pula yang diperbuat oleh para shahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.” (Dari Larangan-larangan Seputar Wanita Haid, dari <em>Irwaul Gholil</em> I/161 dari <em>Masa’il Imam Ahmad</em> hal. 5)</p>
<p>Abu Muhammad bin Hazm dalam Al Muhalla I/77 berkata, “Menyentuh mushhaf dan berdzikir kepada Allah merupakan ibadah yang diperbolehkan untuk dilakukan dan pelakunya diberi pahala. Maka barangsiapa yang melarang dari hal tersebut, maka ia harus mendatangkan dalil.” (<em>Jami’ Ahkamin Nisa’</em> I/188).</p>
<p><strong>Kesimpulan:</strong></p>
<p>Wanita yang sedang haid diperbolehkan menyentuh mushhaf Al Qur’an karena tidak ada dalil yang jelas dan shohih yang melarang hal tersebut. <em>Wallaahu Ta’ala A’lam.</em></p>
<p><strong>Rujukan:</strong></p>
<ol>
<li>Larangan-larangan Seputar Wanita Haid, artikel Majalah As Sunnah 01/ IV/ 1420-1999, Abu Sholihah Muslim al Atsari.</li>
<li><em>Jami’ Ahkamin Nisa’</em>, Syaikh Musthofa al ‘Adawi.</li>
<li><em>Tafsir Al Qur’an Al ‘Adziim</em> (Terj. <em>Tafsir Ibnu Katsir</em> Jilid 8), Ibnu Katsir.</li>
</ol>
<p>***</p>
<p>Artikel www.muslimah.or.id</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>Bolehkah Wanita Haidh Masuk ke Masjid ?</h2>
<p><span style="color: #0000ff;">Bolehkah Wanita Haidh Masuk ke Masjid ?</span></p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Bagaimana hukumnya wanita yang sedang haidh masuk masjid untuk suatu keperluan, misalnya mengikuti taklim? Sementara ada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, bahwa Rasulullah Shalallahu a’laihi wassalam bersabda:</p>
<p>“Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid kepada wanita yang haidh dan orang yang junub.”</p>
<p>‘Athiyyah, Purwokerto</p>
<p><strong>Jawab :</strong></p>
<p>Dalam permasalahan ini ada perselisihan pendapat di kalangan ulama, ada yang mengatakan boleh dan ada pula yang berpendapat tidak boleh. Kata Imam Asy Syaukani: “Zaid bin Tsabit berpendapat boleh bagi wanita haidh masuk ke dalam masjid kecuali bila dikhawatirkan darahnya menajisi masjid. Al Imam Al Khaththabi menghikayatkan kebolehan ini dari Malik, Asy Syafi`i, Ahmad dan Ahlu dzahir. Sedangkan yang berpendapat tidak boleh adalah Sufyan dan Ashabur Ra’yi, dan pendapat ini yang masyhur dari madzhabnya Al Imam Malik.” (Nailul Authar, 1/320).</p>
<p><strong><em>Namun yang kuat dari pendapat yang ada, wallahu ta‘ala a‘lam bisshawwab, wanita haidh dibolehkan masuk masjid.</em></strong> Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Hazm dalam kitab beliau Al Muhalla (2/184-187), karena tidak ada dalil yang menunjukkan larangan akan hal ini, sementara Rasulullah Shalallahu a’laihi wassalamtelah bersabda :</p>
<p>“<em>Sesungguhnya orang mukmin itu tidaklah najis</em>.” (HR. Al Bukhari no. 283 dan Muslim no. 371)</p>
<p>Di masa hidupnya Rasulullah Shalallahu a’laihi wassalam ada seorang wanita hitam bekas budak yang biasa membersihkan masjid Nabi dan ia memiliki tenda di dalam masjid. Sebagai seorang wanita tentunya ia mengalami haidh namun tidak didapatkan adanya perintah Rasulullah Shalallahu a’laihi wassalamagar dia keluar dari masjid ketika masa haidhnya. (Haditsnya disebutkan Al Imam Al Bukhari dalam Shahihnya no. 439).</p>
<p><em>Sementara hadits yang anda tanyakan adalah hadits yang dha’if (lemah),</em> dijelaskan pula oleh Ibnu Hazm sisi kelemahan hadits ini, sebagaimana dalam Al Muhalla. Demikian pula Asy Syaikh Al Albani dalam Tamamul Minnah (118-119).</p>
<p><strong>Batasan kufu dalam pernikahan</strong></p>
<p>Apakah batasan kufu dalam pernikahan? Apakah adanya kecocokan hati, perasaan, cara berpikir, cara pandang dan kefaqihan dalam agama termasuk dalam kekufuan ?</p>
<p>Dianwati</p>
<p>ummuyusuf@myquran.com</p>
<p><strong>Jawab :</strong></p>
<p>Para ahli fiqih (fuqaha) berbeda pendapat tentang kafa’ah (kufu) dalam pernikahan, namun yang benar sebagaimana dijelaskan Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma‘ad (4/22), yang teranggap dalam kafa’ah adalah perkara dien (agama). Beliau t berkata tentang permasalahan ini diawali dengan menyebutkan beberapa ayat Al Qur’an, di antaranya :</p>
<p>“<em>Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan kalian bersuku-suku dan berkabilah-kabilah agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa</em>.” (Al Hujurat: 13)</p>
<p>“<em>Orang-orang beriman itu adalah bersaudara.”</em> (Al Hujurat: 10)</p>
<p>“Kaum mukminin dan kaum mukminat sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain.” (At Taubah: 71)</p>
<p>“<em>Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik…”</em> (An Nur: 26)</p>
<p>Kemudian beliau lanjutkan dengan beberapa hadits, di antaranya sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam:</p>
<p>“<em>Tidak ada keutamaan orang Arab dibanding orang ajam (non Arab) dan tidak ada keutamaan orang ajam dibanding orang Arab. Tidak pula orang berkulit putih dibanding orang yang berkulit hitam dan sebaliknya orang kulit hitam dibanding orang kulit putih, kecuali dengan takwa. Manusia itu dari turunan Adam dan Adam itu diciptakan dari tanah</em>”.</p>
<p>Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda kepada Bani Bayadlah: “<em>Nikahkanlah wanita kalian dengan Abu Hindun</em>”.</p>
<p>Maka merekapun menikahkannya sementara Abu Hindun ini profesinya sebagai tukang bekam.</p>
<p>Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam sendiri pernah menikahkan Zainab bintu Jahsyin Al Qurasyiyyah, seorang wanita bangsawan, dengan Zaid bin Haritsah bekas budak beliau. Dan menikahkan Fathimah bintu Qais Al Fihriyyah dengan Usamah bin Zaid, juga menikahkan Bilal bin Rabah dengan saudara perempuan Abdurrahman bin `Auf.</p>
<p>Dari dalil yang ada dipahami bahwasanya penetapan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dalam masalah kufu adalah dilihat dari sisi agama. Sebagaimana tidak boleh menikahkan wanita muslimah dengan laki-laki kafir, tidak boleh pula menikahkan wanita yang menjaga kehormatan dirinya dengan laki-laki yang fajir (jahat/jelek).</p>
<p>Al Qur’an dan As Sunnah tidak menganggap dalam kafa’ah kecuali perkara agama, adapun perkara nasab (keturunan), profesi dan kekayaan tidaklah teranggap. Karena itu boleh seorang budak menikahi wanita merdeka dari turunan bangsawan yang kaya raya apabila memang budak itu seorang yang ‘afif (menjaga kehormatan dirinya) dan muslim. Dan boleh pula wanita Quraisy menikah dengan laki-laki selain suku Quraisy, wanita dari Bani Hasyim boleh menikah dengan laki-laki selain dari Bani Hasyim. (Zaadul Ma‘ad, 4/22) .</p>
<p>Sumber: http://asysyariah.com Penulis : Pengasuh Rubrik Muslimah Bertanya Judul: <span style="color: #0000ff;">Wanita Haidh Masuk ke Masjid dan batasan Kufu Dalam pernikahan</span></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alaminkorea.com/index/?feed=rss2&#038;p=1262</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendapat Imam An-Nawawy Yang Berbeda Dengan Imam Asy-Syafi’i</title>
		<link>http://www.alaminkorea.com/index/?p=1252</link>
		<comments>http://www.alaminkorea.com/index/?p=1252#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 May 2012 16:14:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Syariah Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alaminkorea.com/index/?p=1252</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Ustadz Kharisman PENDAHULUAN Tulisan berikut ini menunjukkan beberapa contoh pendapat al-Imam anNawawy yang berbeda dengan pendapat Al-Imam asy-Syafi’i. Semoga Allah merahmati mereka berdua. Padahal, telah dimaklumi bahwa Al-Imam An-Nawawy adalah salah seorang Ulama Syafi’iyyah. Hal tersebut menunjukkan bahwa metode bermadzhab yang diterapkan oleh para Ulama’ bukanlah fanatik buta dan taklid sepenuhnya terhadap madzhab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1></h1>
<div>
<h3>Oleh : Ustadz Kharisman</h3>
<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Tulisan berikut ini menunjukkan beberapa contoh pendapat al-Imam anNawawy yang berbeda dengan pendapat Al-Imam asy-Syafi’i. Semoga Allah merahmati mereka berdua. Padahal, telah dimaklumi bahwa Al-Imam An-Nawawy adalah salah seorang Ulama Syafi’iyyah.</p>
<p>Hal tersebut menunjukkan bahwa metode bermadzhab yang diterapkan oleh para Ulama’ bukanlah fanatik buta dan taklid sepenuhnya terhadap madzhab yang diikutinya. Tidak sedikit di antara mereka mengikuti pendapat yang menurutnya lebih dekat pada kebenaran, lebih sesuai dengan dalil yang shahih, meski bertentangan dengan pendapat Imam Madzhab yang diikutinya.</p>
<p>Beberapa pendapat Al-Imam An-Nawawy yang berbeda dengan Al-Imam Asy-Syafi’i dalam masalah Fiqh, bahkan beliau menyatakan bahwa pendapat al-Imam asySyafi’i lemah dalam masalah tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong>1.</strong><strong>Takbir dalam sholat Ied </strong>ولو نسي التكبيرات حتى افتتح القراءة ، لم يرجع إلى التكبيرات على القول الصحيح ، وللشافعي قول ضعيف : أنه يرجع إليها ( الأذكار :1-173)</p>
<p><em>Kalau seandainya lupa takbir (tambahan dalam Sholat Ied) sehingga memulai bacaan (Al-Fatihah), tidak perlu kembali takbir berdasarkan pendapat yang shahih. Asy-Syafi’i memiliki pendapat yang lemah yaitu kembali pada takbir (al-Adzkaar :1/173)</em><em></em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>2.</strong><strong>Makruhnya jual beli di dalam masjid </strong>تكره الخصومة في المسجد ورفع الصوت فيه ونشد الضالة وكذا البيع والشراء والاجارة ونحوها من العقود هذا هو الصحيح المشهور وللشافعي قول ضعيف أنه لا يكره البيع والشراء   (المجموع شرح المهذب 2-175)</p>
<p><em>Dibenci (makruh) bermusuhan/ berdebat di masjid, mengeraskan suara, mencari barang hilang, demikian juga jual beli, sewa-menyewa dan akad-akad semisalnya. Ini adalah pendapat yang benar dan masyhur. Sedangkan Asy-Syafi’i dalam masalah ini memiliki pendapat yang lemah yaitu tidak makruh jual beli (di masjid)(al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab (2/175)).</em><em></em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>3.</strong><strong>Al-Halq termasuk Bagian Manasik </strong>أن أفعال يوم النحر أربعة رمى جمرة العقبة ثم الذبح ثم الحلق ثم طواف الافاضة وأن السنة ترتيبها هكذا فلو خالف وقدم بعضها على بعض جاز ولا فدية عليه لهذه الأحاديث وبهذا قال جماعة من السلف وهو مذهبنا وللشافعي قول ضعيف أنه اذا قدم الحلق على الرمى والطواف لزمه الدم بناء على قوله الضعيف أن الحلق ليس بنسك   ( شرح النووي على مسلم 9-55)<em> </em></p>
<p><em>Sesungguhnya amalan-amalan pada hari anNahr (penyembelihan)(bagi Jamaah Haji) ada 4 yaitu melempar </em><em>J</em><em>umratul Aqobah kemudian menyembelih kemudian bercukur kemudian Thawaf Ifadhah, dan bahwasa</em><em>n</em><em>nya Sunnahnya adalah dilakukan berurutan demikian. </em><em>Kalau seandainya tidak berurutan sehingga sebagian didahulukan dari yang semestinya, boleh dan tidak ada fidyah baginya berdasarkan hadits-hadits ini. Ini adalah pendapat sekelompok Ulama’ Salaf dan ini adalah madzhab kami. Sedangkan Asy-Syafi’i memiliki pendapat yang lemah yaitu jika mendahulukan bercukur dari melempar jumrah dan thawaf, maka harus membayar dam. Hal ini didasarkan pendapatnya yang lemah, yaitu bahwa bercukur bukanlah bagian dari manasik (Syarh anNawawy terhadap Shahih Muslim (9/55))</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4.</strong><strong>Masuk Makkah Tidak Perlu Ihram bagi yang Tidak Berniat Haji atau Umrah </strong>وأما من لا يريد حجا ولاعمرة فلا يلزمه الاحرام لدخول مكة على الصحيح من مذهبنا سواء دخل لحاجة تتكرر كحطاب وحشاش وصياد ونحوهم أولا تتكرر كتجارة وزيارة ونحوهما وللشافعي قول ضعيف أنه يجب الاحرام بحج أو عمرة ان دخل مكة أو غيرها من الحرم لما يتكرر بشرط سبق بيانه في أول كتاب الحج ( شرح النووي على صحيح مسلم 8-82)</p>
<p><em>Sedangkan orang yang tidak berniat haji atau umrah maka tidak harus ihram ketika masuk Makkah berdasarkan pendapat yang Shahih dari Madzhab kami. </em><em>Sama saja apakah masuk untuk keperluan yang berulang seperti mengambil kayu bakar, penjual rumput, pemburu, dan semisalnya, atau tidak untuk keperluan yang berulang seperti berdagang, ziyarah, dan semisalnya. Asy-Syafi’i memiliki pendapat yang lemah yaitu bahwasanya wajib ihram untuk berhaji atau umrah jika masuk ke Makkah atau wilayah Haram lain untuk keperluan yang berulang dengan syarat yang telah disebutkan di awal kitab alHajj (Syarh Shahih Muslim lin Nawawy (8/82))</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>5.</strong><strong>Sebab Jamak waktu Haji dan Jarak Safar</strong>…فيه فوائد منها أن السنة للدافع من عرفات أن يؤخر المغرب إلى وقت العشاء ويكون هذا التأخير بنية الجمع ثم يجمع بينهما في المزدلفة في وقت العشاء وهذا مجمع عليه لكن مذهب أبي حنيفة وطائفة أنه يجمع بسبب النسك ويجوز لأهل مكة والمزدلفة ومنى وغيرهم والصحيح عند أصحابنا أنه جمع بسبب السفر فلا يجوز إلا لمسافر سفرا يبلغ به مسافة القصر وهو مرحلتان قاصدتان وللشافعي قول ضعيف أنه يجوز الجمع في كل سفر وان كان قصيرا    (شرح النووي على مسلم 8-187)</p>
<p><em>… di dalamnya terdapat faidah-faidah, di antaranya : Bahwasanya disunnahkan bagi orang-orang yang bertolak menuju Arafah mengakhirkan (sholat maghrib) ke waktu Isya’ dan pengakhiran ini diniatkan jamak. Kemudian menjamak kedua sholat di Muzdalifah. Ini telah (hampir) disepakati (oleh para Ulama’), akan tetapi Madzhab Abu Hanifah dan sebagian kelompok menyatakan: bahwa mereka (jamaah haji) menjamak karena sebab Manasik, dan boleh bagi penduduk Makkah, Muzdalifah, dan Mina, maupun selainnya (untuk menjamak sholat demikian). Pendapat yang benar menurut Sahabat-sahabat kami adalah bahwa jamak tersebut dilakukan karena safar, maka tidak boleh dilakukan kecuali oleh musafir yang telah melakukan safar menempuh jarak bolehnya qoshor, yaitu dua marhalah pertengahan. Sedangkan </em><em>A</em><em>sy-Syafi’i berpendapat dengan pendapat yang lemah bahwasanya boleh menjamak pada semua keadaan safar meski jarak dekat (Syarh Shahih Muslim lin Nawawy (8/187))</em></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alaminkorea.com/index/?feed=rss2&#038;p=1252</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketinggian Akhlaq Lemah Lembut</title>
		<link>http://www.alaminkorea.com/index/?p=1247</link>
		<comments>http://www.alaminkorea.com/index/?p=1247#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 May 2012 16:11:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tausiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alaminkorea.com/index/?p=1247</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abu Umar Al Bankawy   Tiga perkara ini (Al Hilm, Al Anah dan Ar Rifq) memiliki makna yang berdekatan. Ketiganya mengandung makna berlemah lembut dalam bermuamalah dengan sesama. Oleh karena itu, para ulama menjadikan pembahasannya dalam satu bab. Al Hilm (الحلم) maknanya adalah seseorang bisa menguasai dirinya ketika marah.  Jika seseorang dilanda amarah maka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1></h1>
<div>
<p><em><a href="http://www.alaminkorea.com/index/?attachment_id=5594" rel="attachment wp-att-5594">Oleh: Abu Umar Al Bankawy</a></em></p>
<p dir="LTR"><em> </em></p>
<p dir="LTR">Tiga perkara ini (Al Hilm, Al Anah dan Ar Rifq) memiliki makna yang berdekatan. Ketiganya mengandung makna berlemah lembut dalam bermuamalah dengan sesama. Oleh karena itu, para ulama menjadikan pembahasannya dalam satu bab.</p>
<p dir="LTR">Al Hilm (<strong>الحلم</strong>) maknanya adalah seseorang bisa menguasai dirinya ketika marah.  Jika seseorang dilanda amarah maka dengan segera dia bisa menguasai dirinya, tidak terburu-buru merespon atau memberikan balasan.</p>
<p dir="LTR">Sedangkan Al ‘Anah (<strong>الأناة</strong>) maknanya adalah berhati-hati dalam menghadapi permasalahan dan tidak tergesa-gesa. Artinya seseorang tidaklah mengambil sebuah permasalahan dengan zhahirnya belaka, lalu dia pun dengan tergesa-gesa menghukumi permasalahan tersebut sebelum dia menelitinya dengan lebih lanjut.</p>
<p dir="LTR">Adapun Ar Rifq (<strong>الرفق</strong>) maknanya adalah: Bermuamalah dengan manusia dengan lemah lembut bahkan sampai-sampai jika orang tersebut berhak untuk mendapat hukuman dan sanksi maka dia pun tetap memperlakukannya dengan lemah lembut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p dir="LTR">Tingginya kedudukan tiga sifat ini</p>
<p dir="LTR">Ketiga sifat ini banyak mendapat pujian dalam di syariat Islam.</p>
<p dir="LTR">Dari Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>berkata kepada Asyaj ‘Abdul Qais, إنَّ فيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ : الْحِلْمُ وَالأنَاةُ</p>
<p dir="LTR">“Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang dicintai Allah yaitu al hilm dan al anah”. <strong>(HR. Muslim)</strong></p>
<p dir="LTR">Dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda, إِنَّ اللهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ ، وَيَعْطِي عَلَى الرِّفْقَ مَا لاَ يَعْطِي عَلَى الْعُنْفِ ، وَمَا لاَ يَعْطِي عَلَى سِوَاهُ</p>
<p dir="LTR"><em>“Sesungguhnya Allah Rafiq (Maha Lembut), dan mencintai rifq/kelembutan, Dia memberikan pada rifq, apa-apa yang tidak diberikan pada sikap ‘anaf (keras), dan tidak pula Dia memberikan pada yang selainnya”.</em><strong> (HR. Muslim)</strong></p>
<h1></h1>
<p dir="LTR">Dari beliau (‘Aisyah) <em>radhiyallahu ‘anha</em> juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ ، وَإِيَّاكَ وَالْعُنْفِ ، وَالْفَحْشِ ، إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُوْنُ فِيْ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ ، وَلاَ يَنْزِعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ</p>
<p dir="LTR"><em>“Wajib bagimu untuk berbuat lemah lembut, berhati-hatilah dari sikap keras dan keji, sesungguhnya tidaklah sikap lemah lembut ada pada suatu perkara kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu, melainkan akan memburukkan perkara tersebut”. </em><strong>(HR. Muslim)</strong></p>
<p dir="LTR">Dari Jarir bin Abdillah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda<em>, </em>مَنْ يُحْرَمُ الرِّفْقَ ، يُحْرَمُ الْخَيْرَ كُلَّهُ</p>
<p dir="LTR"><em>“Barang siapa yang diharamkan baginya rifq, diharamkan baginya kebaikan seluruhya”. </em><strong>(HR. Muslim)</strong></p>
<p dir="LTR"><em> </em></p>
<p dir="LTR">Kelembutan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalh figur yang penuh kasih sayang dan kelemahlembutan. Allah ta’ala berfirman, لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ <em>“</em><em>Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.”</em> <strong>(At-Taubah: 128)</strong></p>
<p dir="LTR">Kasih sayang dan kelemahlembutan beliau nampak pada Hadits-hadits berikut:</p>
<p dir="LTR"><strong>1. Kisah Arab Badui yang Kencing di Masjid</strong></p>
<p dir="LTR">Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata, “Tatkala kami dimasjid bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam, </em>tiba-tiba datang seorang A’rabi  (Arab dusun) kencing di masjid, maka para sahabat menghardiknya, “Mah mah (yaitu pergi/tinggalkan)”.</p>
<p dir="LTR">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam, </em>“Jangan kalian hardik, biarkan dia (jangan putus kencingnya)”.</p>
<p dir="LTR">Parasahabat membiarkan A’rabi  tersebut untuk menunaikan kencingnya, kemudian Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>memanggilnya.</p>
<p dir="LTR">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>berkata, “Sesungguhnya masjid-masjid tidak boleh untuk kencing, tetapi dipergunakan untuk berdzikir kepada Allah, shalat dan membaca Al Qur’an”.</p>
<p dir="LTR">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda kepada para sahabat-sahabatnya, “Sungguh kalian diutus untuk memudahkan dan tidak untuk menyulitkan, guyurlah air kencing tadi dengan satu ember air”.</p>
<p dir="LTR">A’rabi  itu berkata, “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan jangan Engkau rahmati selain kami”.</p>
<p dir="LTR">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam, </em>“Sungguh engkau telah mempersempit perkara yang luas.”<strong>(Muttafaqun ‘alaihi)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<h1></h1>
<p dir="LTR"><strong>2. Metode Beliau dalam Menegur Para Sahabat</strong></p>
<p dir="LTR">Dari Mu’awiyah bin Al-Hakam ‘Aisyah-Sulami <em>radhiyallahu ‘anhu </em>berkata, “Tatkala aku shalat bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam, </em>tiba-tiba ada seseorang yang shalat itu bersin.</p>
<p dir="LTR">Mu’awiyah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> mendoakan, “Semoga Allah merahmatimu”.</p>
<p dir="LTR">Orang-orang yang shalat melihat kepadaku dalam rangka mengingkari. Mu’awiyah mengatakan kepada mereka, “Kenapa kalian melihatku begitu?”</p>
<p dir="LTR">Orang-orang yang shalat memukulkan tangan-tangan mereka ke paha-paha mereka dengan tujuan supaya diam, maka Muawiyah pun diam tatkala mereka diam sampai selesai shalat.</p>
<p dir="LTR">Mu’awiyah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> memuji Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam, </em>“Demi ibu bapakku, aku tidak pernah melihat seorang pengajar sebelum atau sesudahnya yang paling baik pengajarannya dibanding beliau<em>, </em>maka demi Allah, beliau<em> </em>tidak memojokkan aku, tidak memukulku dan tidak mencelaku”.</p>
<p dir="LTR">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda, “Sesungguhnya shalat ini tidak boleh sesuatu pun padanya yang berupa ucapan manusia, tetapi shalat itu tasbih, takbir dan membaca Al-Qur’an”.</p>
<p dir="LTR">Mu’awiyah <em>radhiyallahu ‘anhu </em>berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku baru lepas dari masa jahiliyah, dan Allah datangkan Islam. Dan sesungguhnya ada di antara kami orang-orang yang mendatangi dukun yang mereka mengakui ilmu ghaib”.</p>
<p dir="LTR">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda, “Jangan kamu mendatangi mereka!!”</p>
<p dir="LTR">Mua’wiyah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, “Dan di antara kami ada orang-orang yang ber-<em>tathayur</em> (menganggap sial dengan sesuatu).”</p>
<p dir="LTR">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda, “Itu adalah sesuatu yang didapatkan pada dada-dada mereka, maka jangan sampai menghalangi mereka dari tujuan-tujuan mereka, karena yang demikian itu tidak berpengaruh, tidak mendatangkan manfaat mau pun mudharat.” <strong>(HR. Muslim)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p dir="LTR"><strong>3. Bimbingan Beliau terhadap ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu</strong></p>
<p dir="LTR">Dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> berkata, “Orang-orang Yahudi mendatangi Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>dan berkata, “Kebinasaan bagimu”. Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda, “Bagi kalian juga”. ‘Aisyah berkata, “Kebinasaan bagi kalian, laknat dan murka Allah atas kalian”.</p>
<p dir="LTR">Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda, “Tahan wahai ‘Aisyah, wajib bagimu untuk lemah lembut, hati-hati kamu dari sikap keras dan keji”.</p>
<p dir="LTR">‘Aisyah, “Apakah kamu tidak mendengar apa yang mereka ucapkan?”</p>
<p dir="LTR">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam, </em>“Apakah kamu tidak mendengar apa yang aku ucapkan, aku telah membalas mereka dan itu dikabulkan bagiku dan ucapan mereka terhadapku tidaklah dikabulkan “. <strong>(HR. Al Bukhari)</strong></p>
<p dir="LTR">Dalam riwayat Muslim, “Ja</p>
<h1></h1>
<p dir="LTR">ngan kamu (wahai ‘Aisyah) menjadi orang yang berbuat keji, karena sesungguhnya Allah tidak suka terhadap perkataan kotor/keji dan mengatakan dengan ucapan kotor”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p dir="LTR"><strong>4. Wasiat Beliau ketika Mengutus Para Da’i</strong></p>
<p dir="LTR">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>jika mengutus sahabatnya dalam suatu urusan, beliau<em> </em>bersabda,  بَشِّرُوْا وَلاَ تُنَفِّرُوْا وَيَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوْا</p>
<p dir="LTR"><em>“Gembirakanlah mereka, jangan bikin lari, permudah urusan mereka, jangan mempersulit”. </em><strong>(Muttafaqun ‘alaihi)</strong></p>
<p>Lemah Lembut dalam Mengajak Orang kepada Kebaikan Lemah lembut dalam berdakwah adalah salah satu modal utama di dalam berdakwah. Allah ta’ala berfirman, فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ</p>
<p dir="LTR"><em>“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” </em>(Ali Imran: 159)</p>
<p dir="LTR">Dikatakan kepada Al-Imam Ahmad bin Hanbal, “Bagaimana sepantasnya seseorang memerintahkan kepada yang ma’ruf? ”Beliau menjawab, “Hendaknya dia memerintah dengan lemah lembut dan merendahkan diri.” Kemudian beliau berkata, “Jika mereka memperdengarkan kepadanya perkara yang dia benci, jangan dia marah, sehingga jadilah dia ingin membela dirinya.” (<em>Al Amr bil Ma’ruf wan Nahi ‘anil Munkar, Abu Bakr bin Al Khallal, hal 52)</em></p>
<p dir="LTR">Al-Imam Sufyan berkata,</p>
<p dir="LTR">“Janganlah memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar kecuali orang yang di dalamnya ada tiga perkara: Berlemah-lembut dengan apa yang ia perintahkan dan lemah-lembut dengan apa yang ia larang, adil dengan apa yang ia perintahkan dan adil dengan apa yang ia larang, mengilmui apa yang ia perintahkan dan mengilmui apa yang ia larang.” (<em>Al Amr bil Ma’ruf wan Nahi ‘anil Munkar, Abu Bakr bin Al Khallal, hal 37)</em></p>
<p dir="LTR">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</p>
<h1><a href="http://www.alaminkorea.com/index/wp-content/uploads/2012/05/Tumaminah.jpg"><img class="size-medium wp-image-1250 alignright" title="Tuma'minah" src="http://www.alaminkorea.com/index/wp-content/uploads/2012/05/Tumaminah-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a></h1>
<p dir="LTR">berkata,</p>
<p dir="LTR">“Maka semestinya untuk mempunyai tiga hal: Ilmu, sikap lemah lembut, dan kesabaran. Ilmu sebelum memerintahkan dan melarang, sikap lemah-lembut bersamanya, dan kesabaran setelahnya. Dan setiap dari tiga hal ini mesti menemaninya dalam keadaan-keadaan ini.” (<em>Al Amr bil Ma’ruf wan Nahi anil Munkar, Ibnu Taimiyyah, hal 18)</em></p>
<p dir="LTR"><em>Wallahu ta’ala a’lam bish shawab.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p dir="LTR"><strong>Sumber:</strong></p>
<p dir="LTR">-          <em>Syarh Riyadhis Shalihin, Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin</em></p>
<p dir="LTR">-          <em>Qutufun min Syamaaili Al Muhammadiyyah, Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu</em></p>
<p dir="LTR">-          <em>Al Amr bil Ma’ruf wan Nahi anil Munkar, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah</em></p>
<p dir="LTR">-          <em>Al Amr bil Ma’ruf wan Nahi anil Munkar, Abu Bakr bin Al Khallal</em></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alaminkorea.com/index/?feed=rss2&#038;p=1247</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Akhlaq Mulia</title>
		<link>http://www.alaminkorea.com/index/?p=1241</link>
		<comments>http://www.alaminkorea.com/index/?p=1241#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 15:08:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiah]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alaminkorea.com/index/?p=1241</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abu Umar Al Bankawy Di dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ مَكَارِمَ (وَ فِي رِوَايَةٍ: صَالِحَ) اْلأََخْلَاقْ “Hanya saja aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia (dalam riwayat yang lain: menyempurnakan kebagusan akhlaq).” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Alban [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Oleh: Abu Umar Al Bankawy</strong></p>
<p><img class="size-medium wp-image-1243 aligncenter" title="jalan-menuju-kemuliaan-akhlak" src="http://www.alaminkorea.com/index/wp-content/uploads/2012/05/jalan-menuju-kemuliaan-akhlak-300x220.jpg" alt="" width="300" height="220" /></p>
<div></div>
<p style="text-align: justify;">Di dalam ha<span style="text-align: center;">dits yang diriw</span><span style="text-align: center;">ayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ مَكَارِمَ (وَ فِي رِوَايَةٍ: صَالِحَ) اْلأََخْلَاقْ</span></p>
<div>
<div style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;"><em>“Hanya saja </em><em>aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia (dalam riwayat yang lain: menyempurnakan kebagusan akhlaq).”</em> <strong>(HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Alban</strong></p>
<div>
<p style="text-align: justify;"><strong>i dalam Ash Shahihah no. 45)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Syariat sebelu</p>
<p style="text-align: justify;">m Islam telah m</p>
<p style="text-align: justify;">enyeru manusia untuk memiliki akhlaq mulia. Kemudian diutuslah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa kesempurnaan akhlaq.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhlaq yang mulia memiliki ba</p>
<p style="text-align: justify;">nyak keutamaan, di antaranya:</p>
<div>
<p style="text-align: justify;"><strong>1. Orang yang memiliki akhlaq yang bagus adalah sebaik-baiknya manusia.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقاً</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang paling bagus akhlaqnya”.</em> <strong>(Muttafaqun ‘alaihi).</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Beliau juga bersabda, اَلْبِرُّ حُسْنُ الخُلُقِ</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Kebaikan adalah bagusnya akhlaq”.</em> <strong>(HR. Muslim)</strong>.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. Orang yang memiliki akhlaq yang mulia menjadi orang yang paling dicintai oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ اِلَيَّ أَحْسَنُكُمْ أَخْلاَقاً</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Sesungguhnya orang y</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>ang paling aku cintai di antara kalian adalah yang paling bagus akhlaqnya”.</em><strong> (HR. Al-Bukhari).</strong></p>
<div>
<p style="text-align: justify;"><strong>3. Akhlaq yang mulia merupakan tanda kesempurnaan iman.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَاناً ، أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً ، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ</p>
<p style="text-align: justify;">“Yang paling sempurna keimanan seseorang mu’min adalah yang paling bagus akhlaqnya dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya”. (HR. At-Tirmidzi dan beliau berkata hasan shahih).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4. Akhlaq mulia merupakan bagian penting dalam agama </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong></strong>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقاً ، وَإِنَّ خُلُقَ اْلإِسْلاَمِ الْحَيَاءُ</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Sesungguhnya bagi setiap dien m</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>emiliki akhlaq, dan akhlaq Islam adalah malu.”</em> <strong>(HR. Ibnu Majah, hasan).</strong></p>
<div>
<p style="text-align: justify;"><strong>5. Akhlaq yang mulia akan mengantarkan ke derajat orang yang senantiasa mengerjakan puasa dan shalat malam.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dari ‘Aisyah radiyallahu ‘anha, b</p>
<p style="text-align: justify;">eliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Sesungguhnya dengan akhlaq mulia </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>seorang mukmin akan sampai ke derajat orang yang mengerjakan puasa dan shalat malam.”’</em> <strong>(HR. Abu Daud dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib 2643)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>6. Akhlaq mulia berat timbangannya di akhirat   </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan betapa beratnya nilai timbangan akhlaq mulia di akhirat kelak jika dibandingkan dengan seluruh amalan. Beliau bersabda: مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلاَةِ</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat timbangannya dari akhlaq mulia ketika diletakkan di atas mizan (timbangan amal) dan sungguh pemilik akhlaq mulia akan mencapai derajat orang yang mengerjakan puasa dan shalat.”</em> <strong>(HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani  dalam As Silsilah Ash Shahihah No. 876)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: أَنَا زَعِيْمُ بَيْتٍ فِيْ رَبْضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا ، وَبَيْتٍ فِي وَسْطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحاً ، وَبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقَهُ<strong>7. Orang yang memiliki akhlaq yang mulia mendapatkan jaminan surga</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Aku penjamin suatu rumah di surga yang paling bawah bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia benar. Dan aku penjamin suatu rumah di surga bagian tengah bagi orang yang meninggalkan berdusta walaupun bercanda. Dan aku penjamin sebuah rumah di surga yang paling tinggi bagi orang yang bagus akhlaqnya”</em>.<strong> (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Al-Albani.)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah beberapa keutamaan akhlaq mulia. Insya Allah pada artikel selanjutnya kita akan bahas bagaimana cara berakhlaq kepada Allah, Rabbuna ‘azza wajalla. <em>(bersambung)</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Referensi:</strong></p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Makarimul Akhlaq, Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin</li>
<li>Quthuufun min Syamaail Al Muhammadiyyah, Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu</li>
</ul>
<h3 align="center"></h3>
<h3 align="center"></h3>
<h3 align="center"><strong>Kesempurnaan Islam dalam Adab dan Akhlaq</strong></h3>
<p style="text-align: justify;" align="center"><em>Oleh: Abu Umar Al Bankawy</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Islam adalah agama yang sempurna. Ajarannya meliputi segenap aspek kehidupan manusia. Dari perkara yang besar sampai perkara yang paling kecil. Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah, dari sahabat Salman Al Farisi radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau pernah ditanya oleh kaum musyrikin.</strong></p>
<p style="text-align: justify;" align="right">قَالُوا لِسَلْمَانَ : قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ كُلَّ شَىْءٍ حَتَّى الْخَرَاءَةَ. فَقَالَ : أَجَلْ ، قَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ ، وَنَهَانَا أَنْ يَسْتَنْجِىَ أَحَدُنَا بِأَقَلَّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ ، وَنَهَانَا أَنْ نَسْتَنْجِىَ بِرَجِيعٍ أَوْ بِعَظْمٍ. رَوَاهُ مُسْلِم</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka bertanya kepada Salman, <em>“Sungguh nabi kalian telah mengajarkan kalian segala sesuatunya sampai-sampai cara buang hajat?”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Salman menjawab, <em>“Benar! Beliau telah melarang kami untuk menghadap kiblat baik ketika buang air besar maupun buang air kecil dan melarang kami untuk beristinja’ (membersihkan kotoran) dengan batu kurang dari tiga biji, dan melarang kami beristinja’ dengan kotoran hewan atau tulang.”</em> <strong>(HR. Muslim)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hadits ini menunjukkan tentang sempurnanya ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh Allah ta’ala telah menjelaskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya tentang pokok dan cabang dari agama ini.  Allah  ta’ala  telah menjelaskan tentang tauhid, kewajiban untuk mengesakan-Nya serta segala macam adab, etika dalam perikehidupan manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika bermajelis Allah ta’ala memerintahkan kepada kita untuk berlapang-lapang sebagaimana firman-Nya,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Hai orang orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: ‘Berlapang lapanglah dalam majelis’, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.”</em> <strong>(Al Mujadalah: 11 )</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika ingin memasuki rumah seseorang, Allah perintahkan kita untuk meminta izin dan memberi salam terlebih dahulu kepada penghuninya. Allah berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Hai orang orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu, sebelum kamu minta izin dan memberi salam kepada penghuninya, yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat. Jika kamu tidak menemui seseorang di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin, dan jika dikatakan kepadamu: ‘Kembalilah’, maka hendaklah kamu kembali, itu lebih bersih bagimu, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”</em> <strong>(An Nur: 27–28)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Adapun tentang akhlak, Islam telah mengajarkan semua karakter terpuji. Sebagai contoh, tentang penunaian amanah. Di dalam Al Qur’an, Allah memerintahkan kita untuk menunaikan amanah. Allah berfirman,إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Sesungguhnya Allah itu memerintahkan kepada engkau semua supaya engkau semua menunaikan amanat kepada pemiliknya.”</em> <strong>(An Nisa’: 58)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Contoh yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah membimbing kita untuk senantiasa bersikap dan berucap jujur serta menjauhi dusta. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ الصِّدقَ يَهْدِي إِلَى البرِّ ، وإنَّ البر يَهدِي إِلَى الجَنَّةِ ، وإنَّ الرَّجُلَ لَيَصدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقاً . وَإِنَّ الكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الفُجُورِ ، وَإِنَّ الفُجُورَ يَهدِي إِلَى النَّارِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكتَبَ عِنْدَ الله كَذَّاباً )) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu membawa surga dan sesungguhnya seorang itu berlaku jujur hingga dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu membawa kepada kejahatan dan sesungguhnya kejahatan itu membawa kepada neraka dan sesungguhnya seorang berdusta hingga dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang  pendusta.”</em><strong> (Muttafaqun ‘alaih).</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dan masih banyak lagi ayat dan hadits seperti ini. Dengan demikian jelaslah, bahwa Islam itu sempurna, mencakup segala aspek kehidupan.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun sungguh disayangkan, kaum muslimin di masa kita sangat jauh dari adab dan akhlaq Islami. Mereka lebih suka mengadopsi etika dan norma dari Barat yang justru banyak yang bertentangan dengan ajaran Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber <a href="file:///D:/website/salafy.or.id/www.salafy.or.id">www.salafy.or.id</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Referensi:</strong></p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Muhadharah Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin yang berjudul “Al Ibda’ fi Bayani Kamaalisy Syar’I wal Khuthratil Ibtida’”</li>
<li>Syarah Riyadhis Shalihin karya Asy Syaikh Muhammad bin Shalihin</li>
</ul>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alaminkorea.com/index/?feed=rss2&#038;p=1241</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Silahturohim Kepolisan dan Imigrasi Daegu</title>
		<link>http://www.alaminkorea.com/index/?p=1228</link>
		<comments>http://www.alaminkorea.com/index/?p=1228#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 09:52:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan Al-Amin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alaminkorea.com/index/?p=1228</guid>
		<description><![CDATA[oleh Masjid Al-amin Daegu south korea pada 19 April 2012 pukul 18:05 · Alhamdulillah, pada rabu 18 april jam 6 petang kemaren Masjid Al-amin kehadiran tamu dari Kepolisian Daegu dan Imigrasi Daegu. Beliau para aparat dari Daegu hadir silahturohim bukan untuk melakukan penangkapan atau sejenisnya. Para petinggi kepolisan dan Imigrasi Daegu hadir untuk meberikan wawasan mengenai hukum, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>oleh <a href="https://www.facebook.com/pages/Masjid-Al-amin-Daegu-south-korea/56479189911">Masjid Al-amin Daegu south korea</a> pada 19 April 2012 pukul 18:05 ·</p>
</div>
<div></div>
</div>
<div>
<p>Alhamdulillah, pada rabu 18 april jam 6 petang kemaren Masjid Al-amin kehadiran tamu dari Kepolisian Daegu dan Imigrasi Daegu. Beliau para aparat dari Daegu hadir silahturohim bukan untuk melakukan penangkapan atau sejenisnya.</p>
<p>Para petinggi kepolisan dan Imigrasi Daegu hadir untuk meberikan wawasan mengenai hukum, perlindungan dan pelayanan kepada warga asing khususnya Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hadir pada kesempatan tersebut Kepala kepolisian Daegu untuk Warga asing, Kepala Imigrasi Daegu dan wakilnya juga dariPemda wilayah Dalseogu.</p>
<p>Kepala kepolisaian Daegu menginformasikan bahwa Polisi Korea tetap akan bersikap melayani, melindungi segenap warga asing jika mempuyai masalah. baik gaji yang tidak dibayar, tindak kekerasan dan lain lain.</p>
<p>Baik dari kepolisan maupun pihak imigrasi memberikan layanan yang sifatnya interaktif.</p>
<p>Apa yang paling tidak disukai WNI terhadap orang korea, dan apa yang disukai dari orang korea dipertanyakan.</p>
<p>Beberapa perserta silaturohim dari WNI memberikan keterangan bahwa yang tidak disukai dari orang korea adalah masalah bahasa yang tidak sesuai dengan apa yang dipelajari diIndonesia karena bahasa korea mempunyai tingkatan tingkatan. Yang di sukai adalah kedisplinan orang korea dal bekerja, berlalulintas dan hampir dalam semua kegiatan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pihak Masjid Al-amin telah menyampaikan ke Ketua LKPI lembaga konsultasi pekerja Indonesia Mr.Choi bahwa untuk operasi penangkapan warga asing yang status tinggalnya sudah habis pihak pemerintah kora selatan dalam hal ini Imiragsi mesti bersikap adil.</p>
<p>Seperti kita ketahui bersama bahwa jumla Warga Korea di Indonesia sebagai Investor terbesar kedua setelah jepang adalah <strong>36.000 orang dengan 1300 Perusahaan</strong><em>. sumber</em> www.kotra.or.id</p>
<p>Mereka semua rata rata Investor disamping ada yang studi di Universitas Universitas di Indonesia.</p>
<p>Warga korea yang illegal di Indonesia juga cukup amat banyak. data resmi belum kita ketahui. namum dilihat dari jumlah orang korea 36.000 WNK dibanding 31.000 WNI di korea yang sudah termasuk Illegal yang berjumlah 5000an orang. WNK warga negara Korea di Indonesia rata rata Investor yang membawa keuntungan besar ke negara korea.</p>
<p>Seperti kita ketahui baru baru ini baru satu dua perusahaan korea diwilayah purwokerto saja ilegal korea mencapai 25orang. bagaimana dengan jumlah 1300an perusahaan korea di Indonesia. diwilayah jawabarat, jabotabek adalah hal biasa jika berjumpa dengan Ilegal korea penduduk Indonesia mengira mereka waraga keturuan China karena persis wajah dan cara bicara. belum didaerah lain sperti Medan apalagi di pulau Bali. jikalu pihak Imigrasi Indonesia mau bersikap terbuka berapa jumlah Illegal Korea di Indonesia?  mungkin bisa jadi lebih dari 5000 orang dimana jumlah WNI illegal di korea.</p>
<p>Untuk Itu Masjid Al-amin menyampaikan harapan nya agar khusus terhadap WNI pihak pemerintah korea bersikap lebih bijak dalam hal sikap terhadap WNI yang habis masa ijin tinggalnya.</p>
<p>Meski demikian kita masih beruntung, total ekspor barang korea ke Indonesia tahun lalu 8,99 US Dollar. total ekspor barang termasuk migar Indonesia ke korea 13,99 US Dollar. kita msih surplus 5 US Dollar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada kesempatan acara silahturohim ini Kepala Kepolisiani Daegu melalui Ketua Masjid memberiikan sumbangan sebuah papan tulis untuk kegiatan bahas korea di Masjid Al-amin Daegu setelah tahun tahun sebelumnya juga memberikan sumbangan berupa Pemanas Listrik, Gas dan lain lainya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kepolisan Korea juga menyampaikan bahwa dalam waktu dekat akan seluruh kendaraan bermotor yang berukuran diatas 50CC akan di berlakukan dengan plat nomor dan terdaftar dikepolisan. termasuk pemilik kendaraan harus mempunyai SIM.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Masjid Al-amin menyampaikan kepada WNI yang ingin membuat SIM baik A maupun C silahkan datang ke Masjid Al-amin pada tiap hari Ahad/Minggu di kantor sekretariat Masjid Al-amin.</p>
<p><img src="https://fbcdn-sphotos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/s720x720/580695_10150690777824912_56479189911_9640619_1695994685_n.jpg" alt="" /></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alaminkorea.com/index/?feed=rss2&#038;p=1228</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diklat WiraUsaha bersama Bapak Haryanto,MT</title>
		<link>http://www.alaminkorea.com/index/?p=1224</link>
		<comments>http://www.alaminkorea.com/index/?p=1224#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 09:47:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan Al-Amin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alaminkorea.com/index/?p=1224</guid>
		<description><![CDATA[oleh Masjid Al-amin Daegu south korea pada 3 April 2012 pukul 16:55 · Bismillahirrokhmanirohim&#8230; Pada kesempatan ahad 1 april 2012 lalu masjid Al-amin Daegu meyelenggarakan kembali Diklat yang urgen dan diminati oleh WNI dikorea selatan khussnya para perkerja Indonesia. Diklat Wirausaha yang telah berlangsung sejak tahap I tahun 2008, kemudia Tahap II th2010 dan yang beberpa hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div></div>
<div>
<div>oleh <a href="https://www.facebook.com/pages/Masjid-Al-amin-Daegu-south-korea/56479189911">Masjid Al-amin Daegu south korea</a> pada 3 April 2012 pukul 16:55 ·</div>
<div></div>
</div>
</div>
<div>
<p>Bismillahirrokhmanirohim&#8230;</p>
<p>Pada kesempatan ahad 1 april 2012 lalu masjid Al-amin Daegu meyelenggarakan kembali Diklat yang urgen dan diminati oleh WNI dikorea selatan khussnya para perkerja Indonesia.</p>
<p>Diklat Wirausaha yang telah berlangsung sejak tahap I tahun 2008, kemudia Tahap II th2010 dan yang beberpa hari lalu tahap III awal april 2012.</p>
<p>Banyak sekali rekan WNI Indonesia yang bekerja di luarnegeri khsususnya dikorera selatan mengalami sukses. kebanyakan dari Eks Korea ini selalu sukses, mengapa bisa dikatakan sukses??</p>
<p>Bukan sekedar biasanya tapi hampir mayoritas eks pekerja korea memang selalu sukses dalam arti &#8230;.., SUKSES kembali lagi kek KOREA untuk menjadi pekerja di parik pabrik korea selatan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Untuk itu Bapak Haryanto dalam diklatnya menyampaikan&#8230;</p>
<p>adalah hal terpenting dari kita untuk sukses berusaha adalah dengan<strong> memulainya</strong>.</p>
<p>memulainya sekecil apapun itu. dengan pertama tama mengenali apa yang paling kita minati dalam waktu luang kita.</p>
<p>Banyak sekali dan hampir mayoritas usaha sukses dimulai dari hobi.</p>
<p>begitu pentingnya nilai dari hobi ini. karena hobi adalah pekerjaan yang kita lalkukan dengan setulus hati tanpa rasa beban, seberat apapun hobi itu meski mungkin harus mengeluarkan dana.</p>
<p>semisal, orang yang hobi sepak bola tentu dia membutuhkan sepatu, bola, kaos dan celana sepak bola. dia bisa memulai bisnisnya dari situ yaitu dengan kaos , sepatu dan segala hala yang berkaitan dengan sepak bola.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan satu satu jalan untuk memperoleh <strong>prestasi adalah dengan mencobanya</strong>. dengan mencoba cakrawala kita akan terbentang, <strong>dengan praktek lahirlah teori/ilmu</strong>.</p>
<p>Untuk itu setelah kita mengetahui bakat yang terklahir dari hobi kita segeralah memulai sekecil apapun usaha itu, Ilmu akan diperoleh dengan sendirinya sambil berjalan.</p>
<p>Selamat berwirausaha, banyak sekali ilmu untuk berwirausaha yang bisa anda terapkan dengan usaha anda.</p>
<p><a href="http://www.alaminkorea.com/index/wp-content/uploads/2012/04/diklat.jpg"><img class="alignleft  wp-image-1225" title="diklat" src="http://www.alaminkorea.com/index/wp-content/uploads/2012/04/diklat.jpg" alt="" width="576" height="432" /></a></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alaminkorea.com/index/?feed=rss2&#038;p=1224</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mitos Draculla</title>
		<link>http://www.alaminkorea.com/index/?p=1204</link>
		<comments>http://www.alaminkorea.com/index/?p=1204#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Apr 2012 11:51:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah dan Iptek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alaminkorea.com/index/?p=1204</guid>
		<description><![CDATA[ Muhammad Al-Fatih Bila di dalam sebuah ruang kelas seorang guru sejarah bertanya siapa yang tahu Muhammad Al-Fatihatau Muhammad II atau di barat lebih di kenal dengan Mehmed II ? Bisa dipastikan tidak ada yang mengangkat tangan. Tetapi bila sang guru bertanya siapa yang tahu Dracula ? Bisa dipastikan sebagian besar murid pasti akan mengacungkan tangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #000000;"> <a href="http://www.alaminkorea.com/index/wp-content/uploads/2012/04/al-fatih-murad-03.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1211" title="al-fatih-murad-03" src="http://www.alaminkorea.com/index/wp-content/uploads/2012/04/al-fatih-murad-03-216x300.jpg" alt="" width="216" height="300" /></a></span></strong><strong><span style="color: #000000;">Muhammad Al-Fatih</span></strong></p>
<p>Bila di dalam sebuah ruang kelas seorang guru sejarah bertanya siapa yang tahu <em>Muhammad Al-Fatih</em>atau <em>Muhammad II</em> atau di barat lebih di kenal dengan <em>Mehmed II</em> ? Bisa dipastikan tidak ada yang mengangkat tangan. Tetapi bila sang guru bertanya siapa yang tahu <em>Dracula</em> ? Bisa dipastikan sebagian besar murid pasti akan mengacungkan tangan untuk berebut menjawab. Itulah ironi yang terjadi, bahwa generasi muda kita lebih mengenal <em>superhero</em> rekaan Barat dibandingkan pahlawaan yang sebenarnya.</p>
<p>Dunia memang sedang timpang, seperti aliran sungai, mengalir dari Barat menuju Timur. Semua yang berasal dari Barat mengalir deras, membanjiri dunia Timur-mulai cara berfikirnya sampai cara jalannya. Tak terasa kalau sebenarnya penjajahan itu masih terus berlanjut hingga hari ini.</p>
<p>Bentuk penjajahan dari zaman ke zaman memang berbeda, tapi caranya sama : lewat <em>hutang</em> atau<em>perang</em>. Ini yang terjadi sejak zaman perbudakan sampai zamn sekarang. Tengoklah hari ini, utang digelontorkan oleh Negara-negara Barat beserta kroni-kroninya, baik lewat IMF, Bank Dunia, maupun lembaga keuangan lainnya. Dengan utang tersebut mereka menjerat Negara penerima utang yang ada di Asia, Afrika dan Amerika latin. Sudah banyak Negara yang menjadi korban penjajahan gaya baru ini. Sedangkan Negara-negara yang tidak bisa di ditundukkan dengan utang maka akan di tundukkan dengan <em>perang</em>. Sebagai alasan pemimpin mereka dituduh sebagi pelindung teroris, anti demokrasi, radikal atau komunis. Bentuk ini yang terjadi di <em>Irak, Afghanistan</em> dan Negara-negara di Amerika Latin.</p>
<p>Lantas apa hubugan semua itu dengan <em>Muhammad Al-Fatih</em> atau <em>Mehmed II</em> dan <em>Dracula</em> ?</p>
<p>Saat ini bentuk penjajahan tidak melulu ekonomi dan politik, tapi juga yang lainnya, salahsatunya adalah <em>sejarah</em>. Seharusnya sejarah merupakan air paling bening untuk melihat masa lalu. Akan tetapi, kini sejarah juga tidak lepas dari jerat penjajahan Barat. Mereka, yang mempunyai akses dari uang sampai senjata, informasi sampai teknologi, terus-menerus berusaha melakukan penjajahan sejarah. Mereka berusaha menyingkirkan sejarah versi lain untuk kemudian memaksakan sejarah versi mereka. Lihatlah bagaimana mereka membuat sejaraah tentang <em>Iran, Irak</em> dan <em>Afghanistan, Venezuela</em> dan<em>Cuba</em>, <em>Korea Utara</em> dan <em>Indonesia</em>. Lihat juga bagaimana mereka membuat sejarah tentang <em>Fidel Castro, Hugo Chaves</em> dan <em>Mahmud Ahmadinejad</em>. Mereka menuliskannya sebagai nasionalis radikal, komunis atau fundamentalis. Simak pula bagaimana mereka membuat sejarah tentang <em>Perang Salib, Perang Pearl Harbour </em>dan <em>Perang Vietnam</em>.</p>
<p>Bagi kita yang peka, maka penjajahan sejarah itu begitu nyata di depan mata. Namun bagi yang tak peka semua itu tak terasa, bahkan tidak tahu sama sekali.</p>
<p><a href="http://www.alaminkorea.com/index/wp-content/uploads/2012/04/draculla.bmp"><img class="alignleft size-full wp-image-1210" title="draculla" src="http://www.alaminkorea.com/index/wp-content/uploads/2012/04/draculla.bmp" alt="" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Vlad Dracula</strong></p>
<p>Kembali lagi ke <em>Muhammad Al-Fatih</em> atau <em>Mehmed II</em> dan <em>Dracula</em>. Kedua-duanya merupakan tokoh sejarah, <em>Muhammad Al-Fatih</em> adalah penguasa Kesultanan <em>Turki Ottoman</em> kekhalifan umat Islam ketika itu dan <em>Dracula</em> adalah penguasa <em>Wallachia, Eropa</em>. Keduanya juga hidup pada era yang sama, yaitu pada periode akhir Perang Salib. Dan, keduanya pernah terlibat dalam pertempuran yang telah merenggut banyak korban jiwa. Akan tetapi, dalam sejarah yang kemudian berkembang masing-masing mempunyai nasib yang berbeda.</p>
<p><em>Muhammad Al-Fatih</em> atau <em>Mehmed II</em> tetap tercatat sebagi tokoh sejarah. Tentu saja ia dikenal sebagai<em>“Pembebas Konstantinopel”</em>. Sedangkan <em>Dracula</em> berbeda nasibnya. Ia lebih dikenal sebagai <em>“Vampire”</em>daripada sebagai manusia sejarah. Seperti yang di kisahkan oleh <em>Bram Stoker</em> dalam novelnya yang berjudul <em>Dracula.</em></p>
<p>Namun walaupun begitu ia bernasib lebih mujur karena namanya justru di kenal di seantero dunia. Dan, harus diakui ia telah berhasil menenggelamkan nama musuh bebuyutannya, <em>Muhammad Al-Fatih</em>atau <em>Mehmed II</em>.</p>
<p>Saat ini bahkan umat Islam sendiri akan lebih mengenal <em>Dracula</em> daripada <em>Muhammad Al-Fatih</em> atau<em>Mehmed II</em>. Nama <em>Dracula</em> tetap menjadi buah bibir bahkan setelah kematianya pada tahun <em>1476 M</em>. Awalnya ia menjadi pembicaraan di kalangan masyaraakat pedesaan di <em>Transylvania</em>, Rumania, dan kemudian berkembang ke seantero <em>Eropa</em>. Namun yang terkenal kemudian bukan kekejamannya sebagai pembantai 500.000 manusia, sebagian besar mati karena di sula. Tetapi ia lebih dikenal sebagai hantu jadi-jadian atau <em>Vampire</em>, yaitu manusia penghisap darah. Yang di angkat dan di populerkan oleh <em>Bram Stoker</em> dalam novelnya yang berjudul <em>Dracula</em>. Kisah inilah yang kemudian terus-menerus didaur ulang sehingga menutupi fakta sejarah yang sebenarnya dan bahkan sudah ribuan film tentang <em>Dracula</em> ini.</p>
<p>Usaha Barat untuk mengangkat pahlawan mereka <em>Dracula</em>, dan menenggelamkan musuh mereka<em>Muhammad Al-Fatih</em> atau <em>Mehmed II</em> bisa dinilai berhasil. Penenggelaman tersebut dengan menggunakan <em>symbol salib</em> dan <em>bawang putih</em>. Lewat symbol salib Barat sebagaimana di uraikan<em>Hyphatia Cneajna</em> dalam bukunya <em>“Dracula, Pembantai umat islam dalam perang salib” </em>ingin menunjukkan superioritas mereka. Bahwa merekalah yang mampu membunuh <em>Dracula</em> dengan salib ; bahwa merekalah yang bisa mengusir setan yang haus darah dengan salib. Mereka ingin mengatakan kepada dunia bahwa, merekalah ksatria dengan tanda salib di dada yang telah menyelamatkan dunia dari terror <em>Dracula</em>.</p>
<p>Dengan cara inilah secara perlahan namun pasti Barat bisa memasukkan ke dalam kesadaran generasi sekarang tentang sosok <em>Dracula</em>. Sehingga nama ini terus-menerus di kenang sepanjang massa, dari anak kecil sampai orang tua. Dan, tak disadari terutama oleh umat Islam sendiri, pahlawan mereka pelan-pelan telah di tenggelamkan dari pentas sejarah. Tak mengherankan memang kalau kemudian kita umat Islam tak mengenal siapa itu <em>Muhammad Al-Fatih </em>atau<em> Mehmed II.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tabiat Barat tersebut hingga kini tak pernah berubah. Saat ini mereka datang laksana ksatria pembebas negeri ke Negara-negara yang kata mereka menjadi sarang teroris. Mereka datang dengan membawa slogan kosong bahwa dunia saat ini sedang terancam Dracula baru yang disebut teroris. Padahal, semua itu cuma kedok mereka untuk melakukan penjajahan gaya baru.</p>
<p>Memang beralasan kalau Barat berusaha menenggelamkan nama <em>Muhammad Al-Fatih </em>atau<em> Mehmed II</em>. Selain menyangkut dendam lama dalam Perang Salib <em>Muhammad Al-Fatih </em>atau<em> Mehmed II</em> merupakan tokoh yang mampu merebut benteng terbesar pasukan Romawi, <em>Konstantinopel</em>. Usaha untuk menenggelamkan nama <em>Muhammad Al-Fatih </em>atau<em> Mehmed II</em> juga bertujuan agar umat Islam terutama generasi mudanya tidak mempunyai tokoh pujaan yang ideal.</p>
<p>Tentu saja jika generasi Islam saat ini meng-idola-kan tokoh seperti <em>Salahuddin Al-Ayubi</em> dan<em>Muhammad Al-Fatih </em>atau<em> Mehmed II</em>, yang kedua-duanya begitu gigih membebaskan Islam dari dominasi Barat. Maka jika ini terjadi tentu saja <em>Amerika Serikat</em> akan terusir dari <em>Afganistan, Pakistan, Irak, Arab Saudi, Mesir,</em> dan <em>Indonesia</em>, karena generasi muda Islam akan bersatu dan menendangnya keluar. Begitu juga dengan <em>Israel</em> yang menurut <em>John Parkins,</em> <em>Israel</em> adalah infanteri <em>Amerika Serikat</em> di Timur Tengah akan terusir dari bumi <em>Palestina</em>, dan rakyat <em>Palestina</em> pun akan merdeka.</p>
<p>Tokoh seperti <em>Muhammad Al-Fatih </em>atau<em> Mehmed II </em>memang teladan yang ideal bagi simbol perlawanan terhadap Barat. Ia selain di kenal ulung dalam strategi perang ia juga seorang pecinta ilmu pengetahuan. Semasa hidupnya beliau mengundang ilmuwan dari berbagai macam Negara dan agama untuk menerjemahkan segala macam buku ke dalam bahasa <em>Turki</em>. Tak mengherankan kalau perpustakaaan di Turki pada masanya menjadi salahsatu perpustakaan paling lengkap di dunia. Karya-karya <em>Yunani</em>, <em>Mesir</em> dan <em>Arab</em> terkumpul menjadi satu sehingga siapapun yang ingin belajar akan menemukan luasnya samudera ilmu pengetahuan.</p>
<p>Yang juga perlu di catat dari <em>Muhammad Al-Fatih </em>atau<em> Mehmed II </em>adalah toleransinya. Sebagaimana<em>Salahuddin Al-Ayubi </em>yang membebaskan <em>Palestina</em>, ketika memasuki Konstantinopel <em>Muhammad Al-Fatih </em>atau<em> Mehmed II</em> tidak merusak satupun tempat ibadah agama <em>Kristen</em> maupun <em>Yahudi</em>. Semua tempat ibadah milik non Muslim tetap di biarkan berdiri dan umatnya beliau lindungi. Ini tidak hanya dilakukan <em>Muhammad Al-Fatih </em>atau<em> Mehmed II </em>ketika membebaskan Konstantinopel. Sewaktu membebaskan <em>Bosnia</em> hal serupa juga beliau lakukan.</p>
<p>Tiga sifat <em>Muhammad Al-Fatih </em>atau<em> Mehmed II </em>Anti Barat, pecinta ilmu pengetahuan dan mempunyai toleransi yang tinggi terhadap perbedaan agama, tentu sifat yang ideal. Jika umat Islam meniru keteladannya maka tentu saja minyak yang ada di <em>Arab Saudi, Mesir, Sudan, Aljazair, Maroko, Libya, Qatar, UEA, Bahrain, Yaman, Oman, Yordania, Syuriah, Libanon, Kuwait, Irak, Afganistan, Pakistan</em>dan negeri kita yang tercinta ini, tidak akan di kuras oleh Amerika Serikat, dan Negara tempat mereka berada akan menjadi Negara yang benar-benar merdeka.</p>
<p>Sayangnya pemimpin di Negara-negara Muslim tidak mempunyai watak dan sifat seperti <em>Muhammad Al-Fatih </em>atau<em> Mehmed II. </em>Justru mereka menjual Negara mereka kepada Barat dan merendahkan harga diri mereka di hadapan Barat. Memberikan sumber daya alam yang sangat berharga, minyak, kepada tuan-tuan asing. Dan bahkan memfasilitasi Barat untuk membunuh saudara mereka. Lihatlah pembantaian di <em>Gaza Palestina</em> ini tidak terlepas dari andil <em>Mesir</em> yang tidak membuka perbatasan <em>Rafah</em>antara <em>Mesir</em> dan <em>Palestina</em>. Sungguh tragis memang. Dan juga masih ingat dalam memori kita bagaimana <em>Arab Saudi</em> dan <em>Yordania</em> memberikan fasilitas bandara mereka kepada <em>Amerika Serikat</em>untuk membunuh saudara mereka di <em>Irak</em>. Ironi memang benar-benar Ironis.</p>
<p>Sementara generasi mudanya lebih memuja pahlawan-pahlawan ciptaaan Barat seperti <em>Rambo, James bond, Hunter, Superman, Spiderman</em>. Dan mencontoh tokoh-tokoh idola mereka seperti <em>pemusik, bintang film holywood</em> dan <em>super model</em> dari Barat. Hingga semua itu melenakan generasi Islam dan membawa mereka kepada <em>penyembahan pada manusia</em> dan <em>berhala-berhala materi</em> dan <em>memper-tuhan-kan mode</em>. Bahkan ada semacam kesimpulan bahwa jika seseorang tidak meniru gaya hidup barat atau tidak meng-idola-kan <em>tokoh musik, bintang film</em> dan <em>super model</em> barat ,adalah <em>kuno</em> alias<em>tidak modern</em>. Sebegitukah ??</p>
<p>Memang tidak mudah melepaskan diri dari dominasi Barat. Jerat-jerat itu memang begitu kuat mengikat kesadaran manusia. Walaupun begitu bukan berarti kita harus menyerah. Tentu pasti ada jalan keluarnya. Disamping kita kembali kepada sumber hidup umat Islam<em> Qur’an </em>dan<em> Hadits</em>, salahsatunya juga adalah kritis terhadap sejarah. Mengapa? Karena kekritisan terhadap sejarah akan membuat seseorang tidak mudah di perdaya, karena mengetahui peristiwa sebenarnya. Dan tidak mudah terpengaruh oleh propaganda media-media Barat, karena kita tahu hal sebenarnya yang terjadi.</p>
<p>Wallahu ‘a’lam bisawwab</p>
<p><iframe width="500" height="375" src="http://www.youtube.com/embed/mYfw8h7eOmo?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alaminkorea.com/index/?feed=rss2&#038;p=1204</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ISLAM dengan Akhlaq sebagai Rahmatan Lil Alamin</title>
		<link>http://www.alaminkorea.com/index/?p=1181</link>
		<comments>http://www.alaminkorea.com/index/?p=1181#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Mar 2012 17:36:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tausiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alaminkorea.com/index/?p=1181</guid>
		<description><![CDATA[Ukuran puncak, muara dari berhasil tidak nya manusia dalam menjalankan dan mewujudkan agama Allah di kehidupan ini adalah bagaimana adab dan akhlaq nya terhadap semua makhluk (terlebih terhadap sesama saudara seIman). “Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berakhlak yang agung” (Al qalam : 4). Adakah orang yang tidak menyukai perhiasan ? jawaban pertanyaan ini jelas, bahwa tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/429575_10150604244474912_56479189911_9339665_473188241_a.jpg" alt="" /></p>
<p>Ukuran puncak, muara dari berhasil tidak nya manusia dalam menjalankan dan mewujudkan agama Allah di kehidupan ini adalah bagaimana adab dan akhlaq nya terhadap semua makhluk (terlebih terhadap sesama saudara seIman).</p>
<p>“Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berakhlak yang agung” (Al qalam : 4). Adakah orang yang tidak menyukai perhiasan ? jawaban pertanyaan ini jelas, bahwa tidak ada seorangpun melainkan ia menyukai perhiasan dan senang untuk tampil berhias di hadapan siapa saja. Karena itu kita lihat banyak orang berlomba-lomba untuk memperbaiki penampilan dirinya. Ada yang lebih mementingkan perhiasan dhahir (luar) dengan penambahan aksesoris seperti pakaian yang bagus, make up,  emas dan permata, hingga mengundang decak kagum orang yang melihat. Adapula yang berupaya memperbaiki kualitas akhlak, memperbaiki dengan akhlak islami.</p>
<p>Yang disebut terakhir ini tentunya bukan decak kagum manusia yang dicari, namun karena kesadaran agamanya menghendaki demikian dengan disertai harapan mendapatkan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala. Kalaupun penampilannya mengundang pujian orang, ia segera mengembalikannya kepada Allah karena kepunyaan-Nyalah segala pujian dan hanya Dialah yang berhak untuk dipuji.</p>
<p><strong>ISLAM MENGUTAMAKAN AKHLAK</strong></p>
<div><a href="http://www.alaminkorea.com/index/wp-content/uploads/2012/03/nasa_andromeda_galaksi_spiral_galaksi.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1183" title="nasa_andromeda_galaksi_spiral_galaksi" src="http://www.alaminkorea.com/index/wp-content/uploads/2012/03/nasa_andromeda_galaksi_spiral_galaksi.jpg" alt="" width="553" height="415" /></a><br />
Mungkin banyak diantara kita kurang memperhatikan masalah akhlak. Di satu sisi kita mengutamakan tauhid yang memang merupakan perkara pokok/inti agama ini, berupaya menelaah dan mempelajarinya, namun disisi lain dalam masalah akhlak kurang diperhatikan. Sehingga tidak dapat disalahkan bila ada keluhan-keluhan yang terlontar dari kalangan awwam, seperti ucapan : “Wah udah ngerti agama kok gak sopan.” Atau ucapan : “Dia sih agamanya bagus tapi sama tetangga tidak pedulian.”, dan lain-lain.</p>
<p>Seharusnya ucapan-ucapan seperti ini ataupun yang semisal dengan ini menjadi peringatan bagi kita untuk mengoreksi diri dan membenahi akhlak. Islam bukanlah agama yang mengabaikan akhlak, bahkan islam mementingkan dan dalam wujudnya mengutamkan akhlak. Yang perlu diingat bahwa tauhid sebagai sisi pokok/inti islam yang memang seharusnya kita utamakan, namun tidak berarti mengabaikan perkara penyempurnaannya. Dan akhlak mempunyai hubungan yang erat. Tauhid merupakan realisasi akhlak seorang hamba terhadap Allah dan ini merupakan pokok inti akhlak seorang hamba. <em>Seorang yang bertauhid tentu akan baik akhlaknya berarti ia adalah sebaik-baik manusia.Semakin sempurna tauhid seseorang maka semakin baik akhlaknya, dan sebaliknya bila seorang muwahhid memiliki akhlak yang buruk berarti lemah tauhidnya lemah aqidahnya.</em></p>
<p><strong>RASUL DIUTUS UNTUK MENYEMPURNAKAN AKHLAK</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam, rasul kita yang mulia mendapat pujian Allah. Karena ketinggian akhlak beliau sebagaimana firmanNya dalam surat Al Qalam ayat 4. bahkan beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menegaskan bahwa kedatangannya adalah untuk menyempurnakan akhlak yang ada pada diri manusia, “Hanyalah aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak.” (HR.Ahmad, lihat Ash Shahihah oleh Asy Syaikh al Bani no.45 dan beliau menshahihkannya).</p>
<p>Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu seorang sahabat yang mulia menyatakan : “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling baik budi pekertinya.” (HR.Bukhari dan Muslim). Dalam hadits lain anas memuji beliau shalallahu ‘alahi wasallam : “Belum pernah saya menyentuh sutra yang tebal atau tipis lebih halus dari tangan rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Saya juga belum pernah mencium bau yang lebih wangi dari bau rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Selama sepuluh tahun saya melayani rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam, belum pernah saya dibentak atau ditegur perbuatan saya : mengapa engkau berbuat ini ? atau mengapa engkau tidak mengerjakan itu ?” (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Akhlak merupakan tolak ukur kesempurnaan iman seorang hamba sebagaimana telah disabdakan oleh rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam : “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya.” (HR Tirmidzi, dari abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, diriwayatkan juga oleh Ahmad. Disahihkan Al Bani dalam Ash Shahihah No.284 dan 751). Dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Abdillah bin amr bin Al ‘Ash radhiallahu ‘anhuma disebutkan : “<em>Sesungguhnya sebaik-baik kalian ialah yang terbaik akhlaknya</em>.”</p>
<p><strong>KEUTAMAAN AKHLAK</strong></p>
<p>Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu mengabarkan bahwa suatu saat rashulullah pernah ditanya tentang kriteria orang yang paling banyak masuk syurga. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Taqwa kepada Allah dan Akhlak yang Baik.” (Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi, juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Lihat Riyadus Sholihin no.627, tahqiq Rabbah dan Daqqaq).</p>
<p>Tatkala Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menasehati sahabatnya, beliau shalallahu ‘alahi wasallam menggandengkan antara nasehat untuk bertaqwa dengan nasehat untuk bergaul/berakhlak yang baik kepada manusia sebagaimana hadits dari abi dzar, ia berkata bahwa rashulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada dan balaslah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya kebaikan itu akan menutupi kejelekan dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan, dan dishahihkan oleh syaikh Al Salim Al Hilali).</p>
<p>Dalam timbangan (mizan) amal pada hari kiamat tidak ada yang lebih berat dari pada aklak yang baik, sebagaimana sabda rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam : “ Sesuatu yang paling berat dalam mizan (timbangan seorang hamba) adalah akhlak yang baik.” (HR. Abu Daud dan Ahmad, dishahihkan Al Bani. Lihat ash Shahihah Juz 2 hal 535). Juga sabda beliau : “ Sesungguhnya sesuatu yang paling utama dalam mizan (timbangan) pada hari kiamat adalah akhlak yang baik.” (HR. Ahmad, dishahihkan al Bani. Lihat Ash Shahihah juz 2 hal.535).</p>
<p>Dari Jabir radhiallahu ‘anhu berkata : Rashulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling saya kasihi dan yang paling dekat padaku majelisnya di hari kiamat ialah yang terbaik budi pekertinya.” (HR. Tirmidzi dengan sanad hasan. Diriwayatkan juga oleh Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban. Lihat Ash shahihah Juz 2 hal 418-419).</p>
<p>Dari hadits-hadits di atas dapat dipahami bahwa akhlak yang paling baik memiliki keutamaan yang tinggi. Karena itu sudah sepantasnya setiap muslimah mengambilakhlak yang baik sebagai perhiasannya. Yang perlu diingat bahwa ukuran baik atau buruk suatu akhlak bukan ditimbang menurut selera individu, bukan pula hitam putih akhlak itu menurut ukuran adat yang dibuat manusia. Karena boleh jadi, yang dianggap baik oleh adat bernilai jelek menurut timbangan syari’at atau sebaliknya.</p>
<p>Jelas bagi kita bahwa semuanya berpatokan pada syari’at, dalam semua masalah termasuk akhlak. Allah sebagai Pembuat syari’at ini, Maha Tahu dengan keluasan ilmu-Nya apa yang mendatangkan kemashlahatan/kebaikan bagi hamba-hamba-Nya.</p>
<p>Dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,</p>
<p>&#8220;Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan<em> sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia</em>.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)</p>
<p>Dishahihkan oleh al Albani didalam “ash Shahihah” nya.</p>
<p>Wallahu a’lam</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alaminkorea.com/index/?feed=rss2&#038;p=1181</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kegiatan Masjid Al-Amin Daegu 4-5 Juni 2011</title>
		<link>http://www.alaminkorea.com/index/?p=1122</link>
		<comments>http://www.alaminkorea.com/index/?p=1122#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jun 2011 10:53:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan Al-Amin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alaminkorea.com/index/?p=1122</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, sholatu wassalamu&#8217;ala rosulillah, wa&#8217;ala alihi wa shohbihi ajma&#8217;in. Amma ba&#8217;du. Segala puji bagi Allah SWT, Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepa Nabi SAW beserta pengikutnya kita semua hingga akhir zaman. Sabtu 4 juni 2011 jam 22:00 WKS, di Masjid Al-Amin Daegu telah diselenggarakan acara pernikahan antara Amiruddin dan Suciani. Beliau Mas Amiruddin adalah pengurus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Alhamdulillah, sholatu wassalamu&#8217;ala rosulillah, wa&#8217;ala alihi wa shohbihi ajma&#8217;in. Amma ba&#8217;du. Segala puji bagi Allah SWT, Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepa Nabi SAW beserta pengikutnya kita semua hingga akhir zaman.</div>
<div><img src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/252946_10150201256909912_56479189911_7281959_728993_n.jpg" alt="" width="538" height="405" /></div>
<div>Sabtu 4 juni 2011 jam 22:00 WKS, di Masjid Al-Amin Daegu telah diselenggarakan acara pernikahan antara Amiruddin dan Suciani. Beliau Mas<strong> Amiruddin</strong> adalah pengurus Al-Amin Daegu bidang dana usaha, yang aktiv di Masjid Al-Amin Daegu semenjak tahun 2005, Amiruddin mantan <em>bidang IT Al-Amin Daegu 2006-2007</em>, <em>Bidang sekretariat 2007-2009</em>, <em>Bidang dana usaha 2009-2011 </em> . Sedangkan Sdri.<strong>Suciani</strong> salah seorang aktivis akhwat di Masjid Al-Amin Daegu.</div>
<div>
<p>Allah telah mempertautkan hati mereka berdua. Semoga dengan pernikahannya bisa mencapai keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. memeperoleh keturunan yang sehat, shaleh, menjadi pejuang Agama dan Bangsa yang berbakti kepada kedua orangtua nya, aamiiiin&#8230;.</p>
</div>
<p><img src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/252434_10150201299919912_56479189911_7282409_8127083_n.jpg" alt="" width="534" height="400" /></p>
<p>Pagi harinya, ahad 5 juni 2011 jam 09:00-18:00 WKS, Masjid Al-Amin Daegu sesuai agenda diselenggarakan acara rutin dua kali setiap tahun yaitu  bookfair. Pada bookfair ke IV masa kepemimpinan Kang Ino Sutirsno 2009-2011 kali ini, dihadirkan berbagai macam buku yang lebih luas cakupannya. Acara Bookfair IV juga dimeriahkan dengan hadirnya Ustad <strong><em>Habiburrahman El Shirazy</em> </strong> pengarang buku;</p>
<ul>
<li><em>Ayat-Ayat Cinta </em></li>
<li><em>Ketika Cinta Bertasbih </em></li>
<li><em>Dalam Mihrab Cinta </em></li>
<li><em>Bumi cinta</em></li>
</ul>
<p>Meski cuma melalui teleconferensi, Usta Habibburrahman menyatakan kesediaanya untuk hadir dikorea selatan.</p>
<p><img src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/246715_10150201258044912_56479189911_7281965_4290153_n.jpg" alt="" width="353" height="265" /></p>
<p>Pada malam harinya, ahad 5 juni jam20:00, Masjid Al-amin melangsungkan acara perpisahan salah seorang pengurus bidang zakat, infaq dan shodaqoh Masjid Al-Amin. Beliau adalah Sdr.<strong>Mahin Abdulloh</strong> yang akan kembali ketanah air tepatnya tanggal 9 Juni 2011 ke daerah asalnya Lampung Timur. Beliau selama ini 2009-2011 aktiv di masjid Al-Amin sebagai <em>bidang dakwah 2009-2010</em> kemudian <em>Bidang zakat infaq shodaqoh 2010-2011</em>. Beliau juga aktiv sebagai khotib dan Imam Masjid Al-amin daegu. Selain itu juga sebagai<em>Bendahara I pembangunan Masjid Agung Indonesia di Daegu</em>, mulai dari 0 Won hingga kini mencapai 130.000.000 Won.</p>
<p>Selamat jalan Mahin Abdulloh, semoga semua amal selama di Al-amin bisa berbuah hasil di Indonesia dan akherat kelak. <a rel="nofollow" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100001190790187" target="_blank">http://www.facebook.com/profile.php?id=100001190790187</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alaminkorea.com/index/?feed=rss2&#038;p=1122</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HADIRI BOOK FAIR IV di Masjid Al-Amin Daegu</title>
		<link>http://www.alaminkorea.com/index/?p=1104</link>
		<comments>http://www.alaminkorea.com/index/?p=1104#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 May 2011 09:14:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan Al-Amin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.alaminkorea.com/index/?p=1104</guid>
		<description><![CDATA[MARI&#8230; KITA WUJUDKAN BUDAYA MEMBACA. MEMBACA ADALAH PELITA HATI. DENGAN MEMBACA TERBUKA CAKRAWALA DUNIA DAN JAGAT RAYA. DENGAN MEMBACA AKAN BERTAMBAH ILMU. ILMU YANG AKAN MENJAGA KITA. SEDANGKAN HARTA ADALAH KITA YANG MENJAGANYA. Rasulullah SAW untuk memperoleh Aqidah, mengenal TUHANnya, diawali dengan wajibnya untuk berILMU. “Dan bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui.”(Al-Anbiya: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MARI&#8230; KITA WUJUDKAN BUDAYA MEMBACA. MEMBACA ADALAH PELITA HATI. DENGAN MEMBACA TERBUKA CAKRAWALA DUNIA DAN JAGAT RAYA. DENGAN MEMBACA AKAN BERTAMBAH ILMU. ILMU YANG AKAN MENJAGA KITA. SEDANGKAN HARTA ADALAH KITA YANG MENJAGANYA.</strong></p>
<p>Rasulullah SAW untuk memperoleh Aqidah, mengenal TUHANnya, diawali dengan wajibnya untuk berILMU.</p>
<p>“<strong><em>Dan bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui</em></strong>.”(Al-Anbiya: 7)</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi Wa Sallam </em>telah membentangkan jarak pemikiran antara diri beliau dengan kaum beliau. Selagi usia beliau hampir mencapai empat puluh tahun, sesuatu yang paling disukai adalah imengasingkan dir. Dengan membawa roti dari gandum dan air beliau pergi ke gua Hira di Jabal Nur, yang jaraknya kira &#8211; kira dua mil dari Makkah, suatu gua yang tidak terlalu besar, yang panjangnya empat hasta dan lebarnya antara tiga perempat hingga satu hasta.</p>
<p>Beliau untuk bermuhasabah menghabiskan waktunya , memikirkan keagungan alam dan sekitarnya an kekuatan tak terhingga dibalik alam.</p>
<p>Permulaan wahyu yang datang kepada Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam</em> ialah berupa mimpi yang hakiki didalam tidur beliau. Beliau tidak melihat sesuatu didalam mimpinya melainkan ada sesuatu yang datang menyerupai fajar subuh. Kemudian beliau suka mengasingkan diri. Beliau menyendiri di gua Hira&#8217; dan beribadah disana, hingga datang kebenaran tatkala beliau sedang berada di gua Hira&#8217;. Malaikat mendatangi beliau seraya berkata, <strong><em>&#8220;BACALAH!&#8221;</em></strong> berikut penutura beliau, <em><strong>&#8220;Aku tidak bisa membaca&#8221;</strong></em> Dia ( malaikat Jibril ) memegangiku dan merangkulku hingga aku merasa sesak. Kemuadian melepaskanku, seraya berkata lagi, <strong><em>&#8220;BACALAH!&#8221;</em></strong> Aku menjawab, <em><strong>&#8220;Aku tidak bisa membaca.&#8221;</strong></em></p>
<p><em><strong>&#8220;Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.&#8221;</strong></em><strong> </strong> <strong>( Al-Alaq : </strong>1 &#8211; 5 )</p>
<p><img class="size-full wp-image-1111 alignleft" title="Indonesian Book Fair 4 a" src="http://www.alaminkorea.com/index/wp-content/uploads/2011/05/Indonesian-Book-Fair-4-a.jpg" alt="" width="480" height="640" /></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.alaminkorea.com/index/?feed=rss2&#038;p=1104</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

